Write with Us

Aku Ingin Semua Di Yogyakarta Sehat

Suara Muda
Artikel ini ditulis oleh Artyasari Prihatdini
Aku ingin, kotaku Yogyakarta, menjadi kota dimana anak-anak yang sakit tidak lagi takut untuk datang ke puskesmas, tanpa harus bawa uang, tanpa harus membawa kartu. Bisa berobat tanpa harus dipersulit karena tidak memiliki Kartu Keluarga, KTP, maupun BPJS. Kalau keselamatan dan kesehatan adalah utama, hal yang itu bisa nanti, kan?

Aku ingin, kotaku Yogyakarta, menjadi kota dimana teman-temanku yang belajar tentang kesehatan, baik itu kesehatan lingkungan, manusia, gigi dan mulut, tentang obat-obatan maupun terapi, mendapatkan haknya untuk mengklaim aktivitas kerelawanan yang berkaitan dengan dunia kesehatan. Bagaimana dengan bermain dengan teman di luar jam kuliah, tapi disaat yang bersamaan “waktu bermain” itu dapat digadaikan menjadi kunci emas menjadi dokter yang baik? Atau sertifikat “waktu bermain” itu dapat menebus sekian SKS beban belajar di kampus sehingga diberikan waktu yang cukup untuk beristirahat dan mengerjakan hal di luar kegiatan di kampus yang bisa jadi menjadikan teman-teman calon tenaga kesehatanku lebih peka terhadap kesehatan mentalnya.

Saat ini, kegiatan ekstrakurikuler untuk calon perawat, dokter, ahli gizi, maupun ahli kesehatan lainnya tidak dianggap membantu mendapatkan nilai. Padahal, adanya akses kesehatan terutama bagi masyarakat marjinal dapat dibantu oleh kegiatan-kegiatan non formal, komunitas, dan organisasi kerelawanan yang menjamur di Yogyakarta. Padahal, katanya poin terakhir target SDGs adalah kemitraan untuk mencapai tujuan. Seharusnya bisa kan, intervensi kesehatan lebih menyeluruh dengan kerjasama berbagai pihak? Padahal, skill utama yang dibutuhkan calon tenaga kesehatan adalah komunikasi — di samping keterampilan medisnya. Jika Indonesia masih kekurangan tenaga medis yang berpengalaman, maka pengalaman praktis di luar kelas untuk mempraktikkan dalam acara pelayanan kesehatan maupun posyandu, seharusnya bisa menambah kredit teman-temanku ini, bukan?
Relawan kesehatan, mahasiswa maupun profesional dalam meningkatkan kesehatan publik. Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis
Aku ingin, kotaku Yogyakarta, adalah kota di mana hidup di dekat tumpukan sampah, biasanya di pinggir kota, adalah sebuah masalah kesehatan yang serius. Bukan malah diabaikan karena tidak perlunya ‘obat’ untuk menyembuhkan penyakit yang dianggap orang tengah kota, penyakit orang-orang pinggir disebabkan karena kemiskinan saja. Kemiskinan mungkin masalah lain, UMR barangkali, tapi sampah adalah akibat dari kita semua juga.

Saat ini, sampah adalah masalah kritis di Yogyakarta. Tempat Pembuangan Akhir ditutup karena melebihi daya tamping — sedangkan orang-orang yang hidup di sekitar TPA harus digusur untuk perluasan area. Lalu kemana orang-orang ini pergi? Daerah kumuh adalah sumber utama penyakit untuk teman-teman kami yang memilki kekuatan kecil dalam hal ekonomi. Seharusnya Yogyakarta-ku mulai mempraktikkan TPA yang lebih lestari, agar sekalian saja tidak ada lagi masyarakat yang terdampak ISPA akibat kebakaran sampah karena timbulan gas metana, ataupun sanitasi yang buruk.

Ah betul, sanitasi yang buruk. Aku ingin bercerita, tapi aku takut terlalu panjang. Panjang urusan, panjang yang dibahas, dan panjang perdebatannya. Sudahlah, pokoknya aku ingin sehat-sehat saja semua, yang punya uang, maupun yang gajinya di bawah UMR. Tapi, ini juga masalah, sih, bagaimana masyarakat Yogyakarta jadi kesulitan mendapatkan makanan bernutrisi untuk calon ibu dan bayi sehingga bisa mengatasi masalah stunting (pertumbuhan terhambat) meskipun dengan kemampuan ekonominya di tengah inflasi saat ini.
Anak-anak di Trini setelah sosialisasi gosok gigi dan pemeriksaan gigi dan mulut bersama koas FKG. Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis
Aku ingin, kotaku Yogyakarta, adalah kota dimana hidup bertetangga, bersahabat, dan bersekolah, bebas dari ancaman kesehatan reproduksi maupun risiko kesehatan mental. Atau setidaknya, akses untuk konseling bisa jadi yang termudah di Indonesia. Sudah terlalu banyak ‘tetangga’ tempat tinggalku yang tidak sebangunan, berwara-wiri di surat kabar. Entah itu karena perundungan atau kondisi hidup yang sulit. Aku ingin kotaku lebih ramah terhadap penderita disabilitas fisik maupun mental, sama adilnya.

Aku ingin, kotaku Yogyakarta, adalah kota yang sehat. Apakah terlalu banyak yang aku minta?
Tentang Penulis

Artyasari Prihatdini adalah peneliti ESG dan sustainability yang juga menghabiskan waktunya menjadi relawan dan advokator bidang pendidikan dan kesehatan masyarakat. Saat ini, ia berusaha mengembangkan wadah kolaboratif menyatukan urgensi intervensi kesehatan masyarakat dengan ide dan kebutuhan mahasiswa untuk berkegiatan secara positif melalui Komunitas Sekolah Marjinal.
Made on
Tilda