Write with Us

Carbon Neutrality & Inclusive Growth: Amalgamate Mangrove and Aquaculture in Holistic Ecosystem

Expert Opinion
This article was written by Azzamhari Ferdiansyah
Conference of the Parties atau yang disingkat COP merupakan salah satu agenda rapat tahunan PBB untuk membahas isu perubahan iklim (climate change). Pada tahun ini adalah pertemuan ke-28 yang dilaksanakan di Dubai, UAE. Dalam konferensi ini para pemimpin dunia membahas cara membatasi dan mempersiapkan diri untuk perubahan iklim di masa depan. COP28 diharapkan dapat membantu menjaga upaya pembatasan kenaikan suhu global jangka panjang menjadi 1,5C.

Menurut PBB kesempatan untuk menjaga suhu bumi berada di batas 1,5C sudah menyempit dengan cepat, dunia berada di jalur pemanasan yang mengarah ke 2.5C pada 2100 mendatang. Pemanasan suhu jangka panjang saat ini mencapai sekitar 1.1C atau 1.2C jika dibandingkan dengan masa pra-industri - periode sebelum manusia mulai menggunakan bahan bakar fosil dalam skala besar.

Terdapat beberapa fokus dibahas dalam forum COP28, seperti pendanaan aksi iklim, pembangunan yang mengedepankan alam dan manusia, restorasi dan perlindungan mangrove. Mangrove menjadi topik yang menarik, selain dapat mengendalikan perubahan iklim, keberadaan mangrove dapat dikelola menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang meningkatkan tingkat kepedulian masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove.

Pemulihan dan Perlindungan Mangrove untuk Carbon Neutrality

Secara umum mangrove berfungsi sebagai tempat berkumpulnya berbagai macam biota laut, tempat mencari makan, tempat pemijahan, dan juga sebagai tempat asuhan berbagai macam biota. Mangrove juga memiliki fungsi secara fisik, yaitu sebagai penahan gelombang tsunami dan amukan angin, serta menahan erosi. Mangrove memiliki peran yang sama dengan hutan yang lainnya yaitu penyerap CO₂ sehingga dapat membantu dalam pencegahan perubahan iklim. Selain melindungi daerah pesisir dari abrasi, tanaman mangrove mampu menyerap emisi yang terlepas dari lautan dan udara (Karyati et al, 2021).
Foto oleh Timothy K di Unsplash
Hutan mangrove per hektar menyimpan karbon empat kali lebih banyak daripada hutan tropis lainnya di seluruh dunia. (Suryatinia & Dharmadewi, 2022). Penyerapan CO₂ dilakukan oleh vegetasi melalui proses fotosintesis, dimana CO₂ diserap dan diubah menjadi karbon organik yang nantinya didistribusikan ke seluruh bagian tubuh tumbuhan dan disimpan dalam bentuk biomassa (Baderan, 2017). Pemulihan dan perlindungan mangrove menjadi sangat penting karena mangrove dapat berperan besar sebagai paru-paru dunia melalui penyerapan dan penyimpanan karbon biru (blue carbon) dalam mengendalikan perubahan iklim sebagai dampak dari pemanasan global.

Pentingnya Meningkatkan Nilai Tambah dari Keberadaan Hutan Mangrove

Secara faktual kerusakan hutan mangrove disebabkan oleh manusia karena faktor ekonomi dan demografi. Sebagian menebangnya untuk dijadikan kayu dan arang, Sebagian lagi ditebang untuk dijadikan lahan tambak, tambang dan industri lainnya, Sebagian lainnya dikonversikan menjadi lahan tempat penduduk tinggal. Berkaca dari hal ini, keberadaan mangrove harus dilihat lebih dari sekedar hutan biasa tetapi sebagai hutan ajaib (magical forest) yang mempunyai peran dan fungsi penting bagi manusia dan lingkungan. Oleh karena itu apabila keberadaan hutan mangrove memiliki nilai tambah lebih, masyarakat disekitarnya akan lebih peduli dalam menjaga, merawat, dan melestarikan mangrove.
Foto/Vengolis/commons.m.wikimedia.org
Ekosistem mangrove perlu dikelola dengan baik berdasarkan konsep pengelolaan sumber daya pesisir terpadu (Integrated Coastal Zone Management (ICZM) (Sukardjo, 2002). Upaya rehabilitasi hutan mangrove dapat dilakukan melalui pengembangan silvofishery dan pendekatan bottom up (Poedjirahajoe, 2019). Untuk itu dalam meningkatkan nilai tambah dari keberadaan mangrove, diperlukan penataan antara zona konservasi dan zona pemanfaatan bagi kegiatan ekonomi seperti budidaya perikanan. Namun pemanfaatan ini harus dikelola dengan menerapkan prinsip, teknik, metode, dan teknologi ramah lingkungan serta tepat guna.

Menggabungkan Hutan Mangrove dengan Budidaya Perikanan Air Payau

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menjadikan mangrove sebagai hutan produktif yang menghadirkan keserasian dan keharmonisan antara manusia dan alam. Dalam hal ini pada lahan yang sama, mangrove bekerja menyerap karbon dan fungsi penting lainnya serta manusia bekerja untuk ekonominya. Upaya ini dapat dilakukan dengan menggabungkan Pelestarian Hutan Mangrove dengan Budidaya Kepiting Bakau Sistem Apartemen Silvofishery. Konsep ini disebut budidaya secara ekologis (ecological aquaculture).
Konsep dan Rancangan Desain Pembangunan Apartemen Silvofishery
Budidaya ini merupakan inovasi dari perpaduan antara sistem apartemen vertikal yang efisien dan silvofishery yang ramah lingkungan. Sistem apartemen adalah model budidaya yang menggunakan box plastik sebagai tempat kepiting yang tersusun secara vertical dengan bentuk seperti rak penyimpanan. Sedangkan Silvofishery merupakan mekanisme sirkulasi air apartemen kepiting yang terintegrasi aliran air payau hutan bakau (Azzamhari et al, 2022).

Dengan ini masyarakat dapat memperoleh nilai tambah secara ekonomis dari kegiatan budidaya kepiting tanpa mengesampingkan aspek ekologis dengan mengelola budidaya sekaligus merawat hutan mangrove secara terpadu dan berkelanjutan. Keberadaan pohon mangrove akan terus dipertahankan, baik pada zona inti (konservasi) maupun zona pemanfaatan untuk budidaya. Sehingga dengan menerapkan teknologi ini, budidaya akan menjadi ramah lingkungan dan masyarakat menjadi lebih peduli terhadap pelestarian mangrove.

Pemberdayaan Masyarakat pada Kawasan Pesisir Hutan Mangrove

Dalam acara Indonesia Development Forum 2023, Bambang Brodjonegoro menyampaikankan, bahwa sekitar 70 persen masyarakat Indonesia tinggal di daerah pesisir dan mereka bergantung dari daerah perairan itu sendiri sebagai sumber penghidupan. Wilayah perairan yang seharusnya dapat menghasilkan sumber income, protein tidak berbanding lurus dengan realita, kenyataanya masih banyaknya penduduk yang mengalami kemiskinan. Sekarang masyarakat pesisir menghadapi tantangan alam seperti climate change dan low elevation coastal zone. Problematika dan tantangan ini perlu diatasi melalui kolaborasi, penerapan ilmu dan teknologi tepat guna dan pemberdayaan masyarakat yang inklusif. Dalam rangka ini lah inisiatif ini dilaksanakan.
Sosialisasi dan penyamaan persepsi bersama masyarakat mitra, serta Sosialisasi dan penyamaan persepsi bersama masyarakat mitra
Pengisian Bibit Bersama Mitra
Kepiting bakau merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki potensi sebagai penyangga kehidupan Masyarakat terutama bagi nelayan skala kecil (small scale fisheries) (Oktamalia et at, 2018). Sehingga dengan banyaknya penduduk yang tinggal pada daerah pesisir dan geografi Indonesia yang berbentuk kepulauan, budidaya ini menjadi relevan untuk berkembang. Dengan Meningkatnya hasil komoditas kepiting bakau serta hilirisasi produknya seperti kepiting hidup, kepiting soka, dan olahan makanannya akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama yang di wilayah pesisir.

Model pengembangan zona hutan mangrove ini dapat menjadi salah satu strategi agar peran mangrove benar-benar berfungsi sebagai penyangga kehidupan. Sehingga konservasi hutan mangrove tidak hanya sekedar untuk melindungi dan melestarikan spesies serta menyediakan objek wisata, tetapi harus pula berfungsi untuk meningkatkan kondisi sosial ekonomi Masyarakat sekitarnya dalam konteks Pembangunan berwawasan lingkungan (Anwar & Farhaby, 2021). Oleh karena itu penerapan eco-aquaculture ini menjadi solusi tepat guna dalam pengelolaan hutan mangrove yang kolektif, lestari dan inklusif serta memiliki fungsi besar baik dari segi manfaat, ekonomis, dan ekologis.

About the Author

Azzamhari is a Young Public Policy Researcher. In his field, he contributes to impactful policy at addressing issue related to the environment and economic. With experience journalism, research, & community empowerment. he has built a notable career track record.
Made on
Tilda