Write with Us

A-MITASI: Anak Muda untuk Daerah

Expert Opinion
Artikel ini ditulis oleh Basamdo Gery Naibaho

Di Timur Ada Eksotisme yang mempesona, ada juga kegelisahan yang membahana…

Nusa Tenggara Timur dengan sebutan Negeri Seribu Bukit selalu mampu memanjakan mata manusia. Namun hati gundah melihat kenyataan akan banyaknya keterbatasan dan ketertinggalan di dalamnya. Pada tahun 2015, negara-negara anggota PBB telah menyusun program Sustainable Development Goals (SDGs) dimana di dalamnya tersusun 17 tujuan yang ingin dicapai di tahun 2030. Jika ditelaah lebih mendalam, keseluruhan tujuan SDGs tersebut pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor mutu sumber daya manusia (SDM).

Sebagai contoh, tujuan pertama SDGs yaitu No Poverty. Mutu sumber daya manusia yang rendah tentunya akan meningkatkan angka kemiskinan, dan sebaliknya apabila ada upaya untuk meningkatkan mutu SDM maka sedikit banyaknya angka tersebut mampu ditekan. Sama halnya dengan poin SDGs lain, yakni Quality Education, Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan mutu SDM yang berkualitas. Rendahnya kualitas pendidikan berdampak pada krisis SDM.

Refleksi Kualitas SDM di Pelosok Indonesia

Menurut data World Population Review tahun 2021, pendidikan Indonesia berada pada peringkat ke 54 dari 78 negara. Angka ini menyurutkan cita-cita bangsa Indonesia. Sementara itu, pendidikan adalah langkah awal para generasi penerus untuk menjadi sumber daya manusia yang siap melakukan pembangunan berkelanjutan di masa mendatang. Secara nasional, salah satu faktor penyebab rendahnya pendidikan di Indonesia yaitu masih banyak daerah-daerah yang belum terjangkau sehingga terjadi fenomena ketidakmerataan di tiap penjuru Indonesia, terkhususnya daerah 3T perbatasan Indonesia.
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Oleh karena itu, perlu adanya inovasi dalam meningkatkan sumber daya manusia sejak dini. Hal ini diharapkan dapat menciptakan perubahan-perubahan yang signifikan seperti peningkatan rasa ingin tahu anak tentang perkembangan ilmu pengetahuan, meningkatnya motivasi anak akan pendidikan, meningkatnya taraf hidup masyarakat, dan tentunya juga menurunnya angka kesenjangan antara pendidikan pelosok dan perkotaan.

Berdasarkan hasil observasi dan telaah artikel, Kabupaten Belu memiliki banyak generasi muda yang berpotensi untuk mengentas permasalahan yang ada. Hal ini ditandai dengan banyaknya komunitas pemuda yang turut prihatin akan ketertinggalan daerah di beberapa sektor. Oleh karena itu, melalui potensi dan isu yang ada, penulis mengajak para pemuda generasi bangsa untuk berperan aktif dalam memecahkan permasalahan pendidikan masyarakat melalui Aksi “YUK ESTUDA” dalam program Menggapai Ilmu Tapal Batas (A-MITASI) guna memberi dampak perubahan yang signifikan seturut harapan bangsa dan negara.

A-MITASI untuk Menuju Mutu Pendidikan Indonesia yang Lebih Baik

A-MITASI adalah program ke-relawanan yang akan dilakukan secara rutin dan berkelanjutan terhadap anak yang tidak bersekolah ataupun sedang berada pada jenjang SD dan SMP dengan rentang usia 7–15 tahun. Aksi ini akan merangkul para pemuda sekitar yang sudah atau sedang menempuh pendidikan tinggi untuk ikut serta aktif dalam program yang telah dikonsepkan. Dengan demikian, pemuda setempat diharapkan dapat ikut berkontribusi bagi daerah sebagai problem solver di masa kini dan masa depan. ‘

Banyak komunitas pemuda yang berpotensi di Kabupaten Belu untuk menjawab isu sosial seperti pendidikan, ekonomi, dan budaya. Komunitas-komunitas tersebut antara lain seperti Lorosae, PMKRI Atambua, GMNI Atambua, dan Pemuda-pemudi Gereja serta Masjid yang tentunya hadir karena memiliki kesadaran akan betapa pentingnya pembangunan daerah untuk menghadapi masa depan. Untuk menjelaskan secara ringkas dan sederhana akan inovasi ini, berikut penulis sudah merangkai diagram alur perencanaan program.
Alur Perencanaan Program A-MITASI (Sumber: Ilustrasi Penulis)
Pelaksanaan program dilaksanakan dengan metode belajar dan meniru sambil bermain. Metode ini diadopsi mengingat karakterisik umur objek masih suka bermain dan meniru. Ketiga metode tersebut diharapkan dapat memicu tekad dan niat anak dalam menuntut ilmu pengetahuan dan memperbaiki sikap serta perilakunya. Dalam proses belajar mengajar yang interaktif dan menyenangkan, diharapkan mampu memberi dampak positif di berbagai sektor.

Pada sektor pendidikan, program ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi anak dalam memperluas pengetahuan dan wawasan mereka. Secara ekonomi, anak diharapkan akan memutus rantai kemiskinan bagi keluarga dan meningkatkan kesejahteraan di masa depan. Sedangkan, dalam segi sosial-budaya, program ini akan mempersiapkan anak untuk menghadapi kehidupan yang semakin kompleks seturut dengan perkembangan zaman yang sangat pesat. Dengan demikian, anak dapat resilien dalam situasi yang senantiasa berkembang dan menantang.

Catatan Akhir untuk Generasi Emas Indonesia

Perubahan tingkah laku menjadi parameter kesuksesanAdanya perubahan-perubahan positif akan melahirkan pemimpin-pemimpin muda dengan jiwa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi. Generasi muda adalah generasi yang akan memegang tongkat estafet masa depan. Artinya, generasi muda yang akan menentukan masa depan bangsa dan negara. Para pemimpin masa depan harus dipersiapkan sejak dini sehingga mampu menjadi agent of change bagi bangsa dan negara.

Uraian di atas merupakan bentuk inovasi dan kreativitas sekaligus ajakan penulis dalam berproses untuk menggapai mimpi besar bagi daerah. A-MITASI layak dan pantas untuk dilaksanakan di kawasan perbatasan RI-RDTL. Hal ini selaras dengan peringatan World Cities Day yang menyoroti kesenjangan di kota-kota besar di dunia dan mendorong kesetaraan terhadap akses terhadap layanan dan peluang yang lebih besar. Tuntutan ini mengisyratkan anak muda untuk mewujudkan masyarakat yang unggul.

Tentunya, hal ini tidak akan terealisasi tanpa dukungan dan kolaborasi antara orangtua, pemuda, dan pemerintah setempat. Pelaksanaan kegiatan memang tidak mudah, karena dalam pelaksanaannya akan menghadap dinamika yang cukup kompleks dan menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pelaksana. Meningkatkan kesadaran dan motivasi anak akan pendidikan menjadi tujuan utama dalam pelaksanaan program ini sehingga diharapkan mampu menurunkan angka ketertinggalan di perbatasan RI-RDTL. Dan anak muda adalah eksekutor utamanya.

Tentang Penulis

Basamdo Gery Naibaho adalah mahasiswa tingkat akhir Universitas Pertahanan Republik Indonesia yang berdomisili di Kampus Satelit Belu, Nusa Tenggara Timur. Lahir di Medan pada 23 September 2002 oleh pasangan yang sederhana dan tulus mengajari penulis hingga mencapai titik ini. Penulis berasal dari Karo, Sumatera Utara dan melanjutkan pendidikan tinggi dengan merantau ke daerah perbatasan yang menggerakkan hati penulis untuk berkontribusi langsung bagi daerah. Ide dan inovasi yang dimiliki mendapatkan beberapa prestasi melalui kompetisi menulis yang diikuti. Melalui ide yang disampaikan, besar harapan penulis terhadap pemangku kepentingan melihat kondisi dan memberikan solusi yang tepat bagi anak-anak perbatasan.
Artikel diedit oleh Andy Fernanda Probotrianto, Policy Specialist di Pijar Foundation
Made on
Tilda