Write with Us

Alam Imaji di Minangkabau

Suara Muda
Artikel ini ditulis oleh Suci Shawmy Febrita.
Minangkabau merupakan tanah yang sangat mempesona karena keindahan alam yang membuat siapapun jatuh cinta pada tanah ini. Minangkabau adalah surga yang sesungguhnya, mata air yang jernih, taman yang indah, kebun yang subur, pepohonan, tebing-tebing, bukit-bukit, air terjun yang sangat memikau, ombak terbaik, serta makanan terlezat sedunia.

Namun sayang, surga tersebut perlahan rusak oleh tangan manusia yang tidak bertanggung jawab seperti banyaknya manusia yang tidak menjaga lingkungan, membuang sampah sembarangan, mengubah alam sesukanya tanpa memperhitungkan banyak hal untuk kelangsungan ekosistem makhluk hidup yang lainnya, serta kebiasaan atau beberapa budaya yang ditinggalkan.

Padahal dalam pepatah Minangkabau “alam takambang jadi guru” telah digunakan sejak lama oleh leluhur nenek moyang untuk bertahan hidup, tapi kini banyak yang mengabaikannya dalam perilaku namun selalu disebut dalam ucapan kebijaksanaan.
Dokumentasi Pribadi Penulis
Alam Takambang Jadi Guru” menjadi falsafah Minangkabau sejak lama yang bermakna alam terkembang (yang terbentang luas) dijadikan sebagai guru.
Merantau selama 10 tahun, kemudian saya memutuskan untuk pulang ke tanah kelahiran saya tepatnya di Batusangkar, Kota yang dijuluki sebagai Kota Budaya di Kabupaten Tanah Datar. Kota yang sangat berjaya pada masa lalunya yang ditandai adanya Istana Kerajaan Pagaruyung.

Saya mencoba melihat secara detail hal yang tidak pernah saya amati sebelumnya, baik itu ukiran yang ada pada tembok istana, tata letak kota, taman kota, mencicip kembali makanan-makanan, semua hal saya coba rasa dan lihat dari dekat termasuk budaya dan kesenian Minangkabau.

Kota Batusangkar sering dijuluki sebagai kota mati, kota yang telah ditinggalkan karena kegagalan perang atau mungkin kegagalan ekonomi, atau lainnya, sehingga mempengaruhi kondisi psikologis orang di dalamnya, seperti salah satunya anak muda yang telah merantau banyak yang enggan untuk pulang ke tanah Minangkabau, terutama Batusangkar. Hal ini disebabkan berbagai faktor, salah satunya adalah tidak adanya wadah berekspresi dan berkontribusi untuk negeri ini. Tentu ini terjadi karena engganya orang dalam (atau generasi tua) menerima sesuatu hal yang baru dari luar (generasi muda) untuk pembaharuan yang lebih baik. Rasanya sangat sedih dan kecewa ketika keputusan saya pulang harus menghadapi realita daerah dan kota yang seperti ini.
Dokumentasi Pribadi Penulis
Namun, rasa tersebut tidak lama saya rasakan karena bertemu dengan pemuda-pemuda pejuang untuk daerah dan kota mati ini. Mereka tidak hadir langsung dalam suatu organisasi, namun gerakan yang mereka realisasikan berguna untuk membantu keberlangsungan hidup orang banyak yang tidak bisa dijangkau atau tidak dipedulikan oleh pemerintah.

Mereka adalah generasi muda atau anak muda yang suka duduk di warung atau lapau dalam bahasa minang. Warung atau lapau dulu merupakan wadah utama masyarakat minangkabau bertukar informasi, juga tempat bersenda gurau, mengobrol, serta berargumen bahkan mencetuskan ide dan gagasan bagi genersi tua.

Hadirnya teknologi yang canggih, membuat lapau saat ini menjadi sepi dan mati, karena kehadiran café-café yang mewah dan bergengsi. Namun, beberapa generasi muda atau anak muda yang tidak nyaman dengan konsep café saat ini yang sedang menjamur, beberapa dari anak muda membuat kembali lapau baru.

Lapau Lutok menghadirkan sesuatu hal yang dibutuhkan oleh anak muda saat ini. Mereka menghadirkan konsep lapau yang kontemporer tanpa menghilangkan esensinya. Lapau Lutok memberikan wadah kepada anak muda khususnya di Batusangkar untuk mengembangkan daya kreatifitas dan mengasah kemampuan berpikir kritis. Mereka yang bergabung disini bisa menjadi harapan untuk menuju daerah yang lestari serta mampu perlahan menjadikan daerah yang dijuluki kota mati perlahan menjadi kota yang hidup kembali.
Dokumentasi Pribadi Penulis
Lapau Lutok tentunya tidak mengingkari pepatah yang menjadi pedoman hidup nenek moyang Minangkabau yakni “alam takambang jadi guru”, sehingga salah satu pelestariannya adalah lokasinya yang terletak ditengah kebun dan pohon-pohon kelapa, serta kolam-kolam ikan, dipenuhi suara burung dan air yang mengalir, hewan-hewan ternak yang berkeliaran dilingkungan lapau serta matahari yang menyapa pagi dengan lembut, aroma tanah dikala hujan melanda, serta malam yang dipenuhi bintang dan bulan serta api unggun untuk menghangatkan, tidak lupa segelas teh dan kopi panas hadir untuk menemani canda gurau serta diskusi. Pada ujungnya semua itu adalah alam semesta yang menjadi guru serta simbol bagi orang yang mampu memahami, membaca dan merasa.
Jika bahasa bisa divisualkan mungkin saya akan menyamai lapau ini seperti film “Alice in Wonderland”. Seburuk apapun realitas namun pasti akan ada satu hal yang indah.
Lapau Lutok memiliki beberapa kegiatan untuk melestarikan kembali seni dan budaya Minangkabau yang semakin hari sudah semakin memudar. Tentunya, seni dan budaya menjadi aset yang sangat berharga untuk suatu negara karena keterkaitan dengan segala aspek termasuk ekonomi dan sosial. Lapau Lutok yang baru terbentuk satu tahun telah banyak memberikan wadah untuk berekspresi kepada anak muda serta berkreatifitas seperti aktifnya ruang diskusi, pertunjukkan, tari dan musik serta beberapa acara lainnya. Perlahan hal tersebut kami lakukan bersama untuk menuju generasi muda yang berdaya serta kreatif, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk seni, manusia Nusantara khususnya Minangkabau tidak bisa dijauhkan dari seni karena seni yang membuat kita mengenali diri kita sendiri, spirit yang hadir akan menjadi “cahaya” berjalannya generasi muda atau anak muda.

Sehingga dibutuhkanlah dukungan pemerintahan untuk membuat kota mati menjadi kota yang hidup kembali dengan manusia-manusia yang memiliki harapan akan kota yang ditinggalinya serta memberikan wadah kepada kami yang luas untuk berkreatifitas agar generasi muda atau anak muda daerah bisa menghasilkan karya untuk dirinya, orang lain, daerah, kota, serta negara.

Hal tersebut diharapkan bisa untuk mewujudkan imaji alam yang penuh dengan kegiatan positif dan berkreatifitas sehingga sangat penting untuk menjaga kesehatan psikologis dan fisik manusia yang berada didalam suatu kota atau daerah.
Tentang Penulis

Suci Shawmy Febrita adalah seorang dosen Psikologi yang sedang mengajar di salah satu Universitas negeri di Batusangkar. Memiliki ketertarikan akan seni dan budaya yang kaitannya erat dengan psikologis manusia. Ia juga merupakan seorang psikolog yang menaruh minat pada seni sebagai media penyembuhan penyakit mental manusia. Ia memiliki pengalaman menangani berbagai macam klien menggunakan seni, serta aktif bergabung di beberapa komunitas seni dan sosial. Ia selama 10 tahun di Yogyakarta dan ia memutuskan untuk pulang ke Batusangkar untuk mengenali kembali tanah kelahirannya.
Made on
Tilda